Theofillus Akhirnya Didepak



Fit and Proper Test Calon Anggota KPU Diwarnai Walk Out
JAKARTA – Hari pertama uji kelayakan dan kepatutan 21 calon anggota KPU kemarin berjalan panas. Begitu acara dimulai pukul 10.00 di ruang rapat Komisi II DPR, perang interupsi pun langsung mewarnai.

Komisi II adalah alat kelengkapan DPR yang melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk memilih 7 di antara 21 nama yang disodorkan panitia seleksi calon anggota KPU.

Agenda pertama uji kelayakan dan kepatutan kemarin ialah menghadirkan Theofillus Waimuri. Dia merupakan calon anggota KPU yang sejak namanya masuk ke dalam daftar 21 calon yang lolos memicu banyak penolakan.

Theofillus kemarin diminta mengklarifikasi sejumlah dokumen saling bertentangan yang diterima Komisi II DPR. Dokumen tersebut, antara lain, ialah surat pernyataan bahwa yang bersangkutan bukanlah anggota parpol. Tetapi, pada dokumen lain, Theofillus tercatat pernah menjadi caleg dari Partai Demokrat.

Seperti diberitakan banyak media, pendaftaran Theofillus menjadi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) diduga melanggar UU No 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Salah satu klausul dalam UU itu ialah anggota KPU haruslah pribadi yang netral. Nonpartisan. Padahal, pada Pemilu 2004, dia tercatat sebagai calon legislatif dari Partai Demokrat.

Lebih dari lima anggota komisi II meminta pimpinan sidang memberikan penjelasan tentang status pencalonan Theo. Andi Yuliani Paris dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) bahkan memilih walk out ketika proses fit and proper test dilanjutkan. “Untuk apa kita lanjutkan. Jelas-jelas yang bersangkutan melanggar undang-undang,” cetus Andi.

Sebaliknya, Mahfudz Siddiq dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meminta agar fit and proper test diteruskan. Pasalnya, sesuai dengan UU Penyelenggara Pemilu, penjaringan calon anggota KPU harus menghasilkan 21 nama yang harus disaring DPR menjadi tujuh orang. “Jadi, kami mohon pimpinan agar proses yang sudah berjalan dilanjutkan,” ujarnya.

Giliran berikutnya, Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso angkat bicara. Menurut Priyo, agar proses fit and proper test berjalan lancar -sementara Theofillus jelas-jelas melanggar UU- sebaiknya yang bersangkutan mengundurkan diri saja. “Saya sudah meminta Bapak Theo untuk mundur. Apalagi secara UU Bapak Theo otomatis gugur,” tambahnya.

Untuk mendinginkan suasana, pimpinan sidang E.E. Mangindaan memberikan argumen bahwa 21 nama yang masuk telah disepakati diterima oleh DPR.

Oleh karena itu, selayaknya Theofillus diberi kesempatan untuk klarifikasi. “Dokumen dan pemberitaan yang simpang siur harus dia jelaskan,” katanya.

Sidang akhirnya memberikan kesempatan kepada Theofillus untuk mengklarifikasi pencalonan dirinya sebagai caleg DPR dari daerah pemilihan Papua dari Partai Demokrat.

Dalam penjelasannya, mantan duta besar Namibia tersebut mengaku bahwa proses pencalegan pada Pemilu 2004 dilakukan tanpa sepengetahuan dirinya. Menurut dia, namanya dimasukkan ke dalam daftar caleg Partai Demokrat Provinsi Papua oleh kakaknya.

“Ketua DPD Demokrat Papua adalah kakak saya sendiri. Jadi, memang ada sedikit KKN di sana,” ujar Theo terus tersenyum.

Karena Theo mengakui seperti itu, pimpinan sidang akhirnya memutuskan untuk menggugurkan pencalonan putra Papua tersebut. “Atas dasar UU, komisi II memutuskan fit and proper test terhadap Bapak Theo tidak perlu dilanjutkan lagi,” tegas Mangindaan yang disambut tepuk tangan masyarakat yang mengikuti jalannya fit and proper test. (cak)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Categories


%d bloggers like this: