Ijazahku untuk Apa?

“Di negeri kita ini, memang telah banyak orang yang menyandang predikat sarjana, namun harus kita akui bahwa masih banyak sarjana kita yang kebingungan mencari kerja. Pada akhirnya mereka harus menghadapi kenyataan, hidup tidak hanya bertumpu pada selembar kertas yang namanya ijazah, tapi bagaimana kita mampu menggali potensi, untuk mengarungi liku-liku kenyataan hidup”. ADALAH sebuah kenyataan yang ironis, sering kita temui di mana-mana. Bahwa banyak pengangguran kita yang ternyata berijazah sarjana. Atau mungkin bukan pengangguran, namun apa yang ia kerjakan sangat jauh dari ilmu yang dimilikinya.

Saya bertemu dengan dua orang sarjana beberapa waktu lalu. Kurang enak kalau saya sebutkan mereka sarjana apa. Pokoknya titel mereka itu cukup prestisius di mata masyarakat kita, bahkan sebenarnya langka untuk ukuran Kalimantan.

Yang satu jadi tukang ojek, yang satu jualan koran. Alih-alih dapat pekerjaan yang sesuai dengan ijazah yang mereka miliki, mereka malah “terdampar” dalam pekerjaan yang tidak mereka bayangkan, dulu ketika mereka sedang menuntut ilmu di Universitas.

Menghadapi kenyataan hidup, itulah yang mereka katakan. Tidak mudah sekarang mencari kerja, bahkan dengan bekal ijazah sarjana dari universitas ternama di Jawa, itu bukan jaminan. Mereka harus berhadapan dengan kerasnya persaingan dan segala macam liku-liku persoalan. Toh akhirnya mereka harus berani bicara pada dirinya sendiri, kalau begini terus mereka akan jadi apa? Kenyataan dan tuntutan hiduplah yang akhirnya memenangkan pertarungan nurani.

Tentu kita patut memberikan apresiasi atas kegigihan mereka. Yang namanya usaha bagaimana pun patut dihargai. Namun bagaimana dengan mereka yang lain? Bahkan bagi sarjana yang “ngotot” dapat pekerjaan sesuai dengan ilmunya, ia akan menganggur dulu. Akibatnya pengangguran terjadi dimana-mana, atau dengan kata lain sarjana-sarjana kita tidak mampu terserap oleh dunia kerja yang tersedia.

Maka mungkin timbul pertanyaan sebenarnya dalam benak kita, apa penyebab utama dari masalah tersebut dan bagaimana cara mengatasinya?

Saya tentu saja bukan orang yang ahli untuk menjawabnya, tapi ingin menggugah kita semua, kenapa kok hal seperti ini bisa terjadi. Tapi menurut saya, yang paling mendasar sepertinya karena masalah kualitas dari sistem pendidikan kita.

Penyebab utama di mana banyak sekali sarjana-sarjana kita yang menganggur, terutama dari segi kualitas para sarjana atau sumber daya manusia yang kita miliki, yang tidak mampu menjawab tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Selain itu mungkin sistem pendidikan kita tidak mampu menghasilkan manusia-manusia yang punya keinginan kuat untuk mandiri, sehingga setelah mereka lulus yang terjadi adalah pencarian terhadap kerja dan bukan sebaliknya menciptakan lapangan kerja.

Kita bisa membandingkan negara kita dengan Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand dan juga Malaysia yang sama-sama berada dalam satu kawasan dengan negara kita. Negara-negara tersebut kini mulai melaju meninggalkan Indonesia. Kenapa? Ini di karenakan tingkat pendidikan di negara kita masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, juga moralitas yang rendah dengan banyaknya penyelewengan-penyelewengan. Hal ini diperparah dengan keadaan yang kadang kurang kondusif, di mana kerusuhan sering terjadi di berbagai kawasan di Tanah Air kita yang tentu sangat berpengaruh dalam menentukan ketertinggalan bangsa ini.

Kualitas pendidikan katanya sangat berpengaruh pada kualitas SDM. Maka menarik jika pada suatu saat ada orang yang mencoba memperbandingkan rendahnya kualitas SDM kita, serta rendahnya tingkat profesionalitas kita. Pertanyaannya kemudian, apa yang kita perlukan?

Banyak ahli yang mengatakan, yang terpenting yang harus kita kembangkan dalam meningkatkan kualitas SDM kita adalah membangun sebuah etos kerja yang kuat dalam diri setiap individu. Kenapa? Karena sukses atau tidaknya seseorang dalam menjalankan kerja, sangat tergantung dari etos kerja yang dimilikinya. Bekerja dengan didukung oleh etos kerja yang tinggi, tentu akan mendatangkan hasil yang maksimal. Pencapaian tertinggi dalam hidup akan mampu kita raih, jika kita memiliki modal kuat dalam diri kita.

Mencoba menyimak kembali kisah 2 orang sarjana kita tadi diawal, maka menurut saya bukan lagi bicara kualitas SDM semata, tapi hal yang lebih penting lagi adalah etos kerja mereka. Pekerjaan bukan lagi melihat selembar ijazah, tapi bagaimana mereka menjalani pekerjaan mereka saat ini dengan baik? Toh dari jawaban mereka, pekerjaan mereka saat ini, untuk sementara bisa menghidupi diri mereka, lagi halal. Dan mereka tidak menjadi beban orang lain. Itu yang paling penting bagi mereka saat ini. Kita semua tentu dapat mengambil pelajaran, hidup tidak mesti bergantung pada selembar kertas bukan?


About this entry