Wasiat Nabi Muhammad SAW kepada Ibnu Abbas

Oleh:Dr. K.H. Zakky Mubarak, M.A./Masjid Agung Snda kelapa

Kecerdasan Ibnu Abbas
Ibnu Abbas adalah saudara misan Nabi Muhammad Saw. Di usia yang masih muda belia beliau sudah mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan yang dimiliki oleh Ibnu Abbas ini salah satunya adalah berkat munajat doa dari Nabi Saw yang berbunyi:

Ãááøóåõãøó ÝóÞøöåøõ Ýöíú ÇáÏøöíúäö æóÚóáøöãúåõ ÇáÊøóÆúæöíúáö
Artinya: Ya Allah, berikanlah kecerdasan pada Ibnu Abbas ini tentang agama dan berikanlah kemampuan menafsirkan al-Quran secara sempurna kepadanya.

Sungguh luar biasa! Kecerdasannya ini nampak sekali ketika pada suatu saat Ibnu Abbas diajak oleh sahabat Umar bin Khathab untuk menghadiri diskusi ahli badar yang terdiri dari para senior shahabiy, yaitu orang-orang yang pernah mengikuti perang badar bersama Nabi Saw. Saat itu usia Ibnu Abbas baru menginjak 16 tahun. Ketika sahabat Umar datang bersama Ibnu Abbas, tiba-tiba seorang sahabat Nabi Saw. yang sangat senior mengatakan pada Umar, “Wahai Umar, mengapa anda membawa anak muda seperti ini?” Jawab sahabat Umar, “Oh, hanya karena dia masih muda ini saja yang anda tahu?”

Karena seolah-olah para sahabat senior itu meragukan kemampuan Ibnu Abbas yang masih sangat muda belia, spontan Umar memutar otak bagaimana caranya supaya bisa menjelaskan kepada mereka tentang kualitas anak muda yang satu ini. Lantas Umar bertanya pada para sahabat: “Wahai para sahabatku, bagaimanakah pandangan anda sekalian mengenai ayat:

ÅöÐóÇ ÌóÇÁó äóÕúÑõ Çááøóåö æóÇáúÝóÊúÍõ. æóÑóÃóíúÊó ÇáäøóÇÓó íóÏúÎõáõæäó Ýöí Ïöíäö Çááøóåö ÃóÝúæóÇÌðÇ. ÝóÓóÈøöÍú ÈöÍóãúÏö ÑóÈøößó æóÇÓúÊóÛúÝöÑúåõ Åöäøóåõ ßóÇäó ÊóæøóÇÈðÇ.

Artinya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nasr [110]: 1-3)

Bagaimana jawaban dari para senior shahabiy? Mereka mengatakan apa adanya. Mereka menafsiri ayat di atas sebagaimana yang tersurat saja. Mereka mengatakan: “Pada saat kami meraih kemenangan dan orang-orang berbondong-bondong masuk untuk memeluk ke dalam ajaran agama islam, maka kami memuji dan bertasbih kepada-Nya”.

Kemudian sahabat Umar bertanya pada Ibnu Abbas: “Wahai engkau Ibnu Abbas, bagaimanakah menurut pandanganmu mengenai ayat di atas?”

Jawaban Ibnu Abbas justru lebih menukik dan mendalam. Bukan sekadar tersurat, tetapi juga secara tersirat. Ibnu Abbas mengatakan, “Ketika Allah Swt. menurunkan ayat ini, Nabi Saw. diberitahu oleh Allah bahwa ini adalah saat datangnya ajal. Sudah dekat sekali masa ajal itu akan datang, wahai Muhammad. Maka perbanyaklah kamu bertasbih dengan menyucikan dan memuji Tuhanmu, mohon ampunanlah pada Allah Swt”. Termasuk bertasbih itu adalah zikir dengan asmaul husna dan tasbih-tasbih yang lain. Jawaban Ibnu Abbas ini membuat semua sahabat senior terdiam membisu. Dan memang inilah ayat yang sempurna yang diturunkan kepada Muhammad sebelum di Arafah sebagai penyampaian kesempurnaan Islam.

Mengapa para senior shahabiy itu merasa tercengang dan kagum atas kecerdasan yang dimiliki Ibnu Abbas? Karena ketika ayat ini diturunkan, tidak banyak para sahabat yang mengetahui secara detail mengenai informasi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Nabi sakit berat selama tiga hari sebelum beliau wafat, dan Ibnu Abbas mampu menerangkan tafsir dari ayat di atas secara gamblang.

Wasiat Nabi kepada Ibnu Abbas

Wasiat Nabi Muhammad Saw. yang disampaikan kepada Ibnu Abbas antara lain sebagai berikut: Diriwayatkan dari at-Tirmidzi, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Aku berjalan di belakang Nabi Saw., kemudian Nabi Saw. berkata, “Kemarilah wahai Ibnu Abbas, ikutilah saya”. Setelah kami berjalan cukup lama tiba-tiba Nabi Saw. berwasiat kepadaku. Beliau berkata, “Wahai anakku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pelajaran. Pertama, jagalah olehmu segala perintah-perintah Allah Swt.”

Maksud dari menjaga segala perintah-perintah Allah Swt. di situ adalah melaksanakan dan merealisasikan segala perintah Allah dengan sikap ikhlas dan kesungguhan, termasuk juga meninggalkan larangan-larangan-Nya. Ditegaskan dalam hadits lain: “Tidaklah beriman di antara kita sehingga kita ridha dengan apa yang diajarkan Islam yang dibawa oleh Nabi Saw.” Kita meninggalkan larangan dengan tulus dan melaksanakan perintah dengan senang dan tulus pula.

Kemudian kata Nabi Saw. Selanjutnya, “Jika kamu menjaga segala perintah dan larangan Allah, niscaya Allah akan menjaga kamu.” Tidak ada penjagaan yang sempurna kecuali penjagaan dari Allah Swt. Termasuk dalam hal ini penjagaan dari segala marabahaya dan penyakit. Daya tahan yang ada pada diri kita ini pun merupakan karunia langsung dari Allah Swt. Dijamin oleh hadis ini, barang siapa yang menjalankan perintah Allah dan menjahui larangan-Nya, maka Allah pun akan menjaganya.

Dikisahkan, sahabat Umar bin Khathab ketika sedang berkhutbah di Madinah, beliau mampu melihat orang-orang Islam yang sedang berperang terjepit di negeri Syam, kemudian Umar mengirimkan bala bantuan dari Madinah. Mengapa Umar mampu melihat dari jarak pandang yang sangat jauh? Itu karena adanya bantuan dari Allah Swt. yang selalu menjaga hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Ibnu Abbas. “Kedua, peliharalah perintah-perintah Allah dan jauhilah larangan-larangan-Nya dengan tulus maka akan kamu jumpai Allah Swt. di depanmu.” Artinya Allah Swt. akan menjaga dan melindungi serta mengawasi kita. Kata Allah Swt., “Karena sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan kami”.

Masya Allah, sungguh luar biasa!. Tiada karunia yang lebih agung daripada ini: kamu jumpai Allah di depanmu! Ini merupakan kata-kata metaforis atau kiasan, dan seringkali kita jumpai dalam al-Quran serta al-hadits. Misalnya dalam hadis qudsi Allah berkata, “Wahai anak Adam, Aku menderita sakit. Mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?” Anak Adam bertanya, “Wahai Tuhan, bagaimana engkau sakit? Padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Jawab Tuhan: “Hamba-Ku yang bernama Fulan bin Fulan sakit, mengapa engkau tidak menjenguknya, padahal jika engkau menjenguknya, engkau akan menemukan-Ku di sampingnya.”

Wasiat Nabi Saw. pada Ibnu Abbas yang ketiga: “Apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah Swt. dan jangan sekali-kali kamu minta pada yang lain.”

Kadang kita merasa bahwa kita dibantu oleh seseorang lantas kita mengatakan bahwa orang itulah yang membantu kita. Ya, itu memang benar, akan tetapi orang yang membantu kita itu hatinya sudah dilunakkan oleh Allah Swt. sehingga Allahlah hakekatnya yang membantu kita. Jika kita hanya mengharap pada seseorang, kita akan sering merasa kecewa. Maka mintalah bantuan dan berharaplah hanya kepada Allah semata.

Betapa banyaknya karunia yang telah Allah berikan pada kita, nikmat dengan segala macamnya. Jika kita mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat Allah itu niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Firman Allah:

æóÁóÇÊóÇßõãú ãöäú ßõáøö ãóÇ ÓóÃóáúÊõãõæåõ æóÅöäú ÊóÚõÏøõæÇ äöÚúãóÉó Çááøóåö áóÇ ÊõÍúÕõæåóÇ Åöäøó ÇáúÅöäúÓóÇäó áóÙóáõæãñ ßóÝøóÇÑñ.

Artinya: Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrâhîm [14]: 34)

Kemudian Allah juga berfirman pada surat al-Kahfi:

Þõáú áóæú ßóÇäó ÇáúÈóÍúÑõ ãöÏóÇÏðÇ áößóáöãóÇÊö ÑóÈøöí áóäóÝöÏó ÇáúÈóÍúÑõ ÞóÈúáó Ãóäú ÊóäúÝóÏó ßóáöãóÇÊõ ÑóÈøöí æóáóæú ÌöÆúäóÇ ÈöãöËúáöåö ãóÏóÏðÇ.

Artinya: Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS. Al-Kahfi [18]: 109)

Apabila kita berilmu, maka janganlah kita merasa sombong dengan apa yang telah kita peroleh. Jika kita hitung, sejak dari kecil kita belajar sudah menghabiskan berapa tinta? Sedangkan jika kita mencoba menghitung ilmu Allah, maka lautan dijadikan tinta pun tidak akan mampu untuk menulisnya. Bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan bukan hanya satu lautan melainkan tujuh lautan.

Wasiat Nabi berikutnya ialah, “Keempat, apabila engkau memohon dan mencari pertolongan, maka hendaklah kamu mencari pertolongan dan bantuan hanya kepada Allah Swt.” Allah Swt. berfirman:

ÅöíøóÇßó äóÚúÈõÏõ æóÅöíøóÇßó äóÓúÊóÚöíäõ.

Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

Jika diperhatikan dengan seksama, pada ayat di atas terdapat kewajiban dan hak. Oleh karena itu, saya kurang setuju apabila banyak orang yang sering membicarakan tentang hak asasi manusia, akan tetapi tidak pernah membicarakan tentang kewajiban asasi. Intinya adalah tidak diperbolehkan untuk meminta bantuan kepada selain Allah Swt. Bahkan kepada malaikat sekalipun! Meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah Swt. bisa kita lakukan dengan cara menyebutkan amal-amal shaleh yang pernah kita lakukan.

Hal ini diceritakan dalam sebuah hadis shahih. Alkisah, ada tiga orang sedang menempuh perjalanan. Di tengah perjalanan, terjadilah hujan yang sangat lebat. Mereka menemukan sebuah gua dan masuklah mereka ke dalam gua itu. Singkat cerita, terjadi longsor di luar sehingga ada sebuah batu besar yang menutupi mulut gua. Tiga orang dalam gua terjebak tidak bisa keluar. Entah dari mana, tiba-tiba mereka terinspirasi untuk menyebutkan amal-amal kebaikan mereka sebagai lantaran untuk memohon pertolongan Allah Swt. Orang pertama menyebutkan amal kebaikannya. Dia menceritakan bahwa dirinya sangat berbakti pada orang tuanya. Dirinya selalu mendahulukan orang tua dari pada yang lain. Setelah menceritakan amal baiknya, dia berdoa memohon pertolongan dari Allah Swt. Tiba-tiba batu besar itu bergeser sedikit sehingga ada lubang di mulut gua. Tapi lubang itu terlalu kecil untuk mereka bisa keluar.

Selanjutnya orang kedua menyebutkan amal kebaikannya. Dia bercerita bahwa dirinya adalah orang yang sedang berusaha mencari nafkah halal untuk menikahi anak pamannya. Dia berniat dengan niat yang baik. Lalu dia berdoa memohon pertolongan dari Allah Swt. Tiba-tiba batu besar itu bergeser lagi sedikit sehingga lubang yang timbul bertambah besar. Namun tetap saja mereka belum bisa keluar.

Kemudian orang ketiga menceritakan kebaikannya. Dirinya adalah seorang pengusaha pabrik yang menggaji karyawan-karyawannya sesuai dengan kontrak dan keahlian masing-masing. Dia selalu membagi gaji itu dengan adil dan bijaksana. Akan tetapi, ketika tiba waktunya untuk menggaji, tiba-tiba ada salah satu karyawan yang ngambek menolak menerima gaji tersebut. Alasannya karena gajinya tidak sama dengan yang lain. Karyawan ini minta gaji yang tidak sewajarnya. Padahal sesuai perjanjian dia menggaji orang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Karena ngambek, karyawan ini tidak mengambil gajinya dan pergi meninggalkan begitu saja. Gaji yang dia tinggalkan itu kemudian digolang dan dimasukkan ke saham perusahaan. Hingga sampai pada masa 10 tahun, karyawan yang pergi meninggalkan gaji itu datang untuk mengambil hak yang dulu dia tinggalkan. Akan tetapi, tiba-tiba karyawan ini terbelalak kaget luar biasa. Betapa tidak? Gajinya yang dulu dia tinggalkan kini menjadi berlipat ganda karena dikelola oleh majikannya dengan jujur. Kata sang majikan, “Ini adalah gaji kamu, ambil sebelah kanan ada peternakan onta, ambil juga yang sebelah kiri ada kebun kurma.” Itulah kejujuran sang majikan. Lantaran kebaikan ini, lantas dia berdoa mohon pertolongan dan bantuan pada Allah Swt. Spontan batu itu bergeser hingga mulut gua itu terbuka lebar dan ketiga orang itu akhirnya bisa keluar dari dalam gua.

Nasihat kelima: “Ketahuilah! Sekiranya semua orang bersatu padu dan berkumpul untuk memberikan manfaat kepada kamu, maka tidak akan memberikan manfaat semua itu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.” Maksudnya adalah semua sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. itu tidak bisa diganggu gugat. Seperti ketika sudah saatnya kita untuk meninggal, maka seluruh orang sedunia pun tidak bisa membantunya dan tidak bisa menghalang-halangi ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah. Lanjut Nabi Saw, “Apapun terjadi karena izin Allah Swt.”

Nasihat keenam: “Demikian juga sebaliknya, jika semua orang bersatu-padu dan saling menolong untuk memberikan bahaya pada kamu, maka mereka tidak akan memberikan bahaya apapun kecuali atas izin Allah Swt.”

Dalam al-Quran ditegaskan jelas sekali bahwa seorang itu tidak mungkin akan mati kecuali dengan izin Allah dan atas ketentuan yang sudah dipastikan oleh-Nya. Firman Allah dalam surat Yunus ayat 49:

Þõáú áóÇ Ãóãúáößõ áöäóÝúÓöí ÖóÑøðÇ æóáóÇ äóÝúÚðÇ ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ áößõáøö ÃõãøóÉò ÃóÌóáñ ÅöÐóÇ ÌóÇÁó ÃóÌóáõåõãú ÝóáóÇ íóÓúÊóÃúÎöÑõæäó ÓóÇÚóÉð æóáóÇ íóÓúÊóÞúÏöãõæäó.

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfa`atan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). (QS. Yûnus [10]: 49)

Kini pena telah diangkat dan kitab-kitab sudah menjadi kering. Ketentuan tidak bisa diubah, dan itulah ketentuan dari Allah Swt. Jika kita melihat nasehat Nabi Saw. kepada Ibnu Abbas, kita tidak perlu lagi merasa was-was. Inilah kemerdekaan. Maka tidak ada kemerdekaan dan kebebasan yang sempurna kecuali dimiliki oleh mereka yang beriman tebal kepada Allah Swt. Inilah hakekat kemerdekaan manusia yang sesungguhnya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi juga berwasiat kepada Ibnu Abbas: “Kamu akan jumpai Allah di depan, maka kenalilah Allah pada saat kamu dalam suasana bahagia. Jika kamu selalu ingat pada Allah di saat kamu bahagia, maka Allah pun akan mengingat kamu pada waktu kamu susah. Ketahuilah! Bahwa sesuatu yang sudah luput dari kamu tidak akan menimpa kamu.” Artinya, yang lalu sudah berlalu dan tidak mungkin akan terulang lagi. Apa kita akan kembali menjadi muda? Tentunya tidak.

Nabi menambahkan, “Dan apa yang akan menimpa kamu tidak akan bisa kamu hindari. Dan ketahuilah! Sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran”. Maksudnya, kemudahan itu beserta kesulitan dan kebahagiaan itu beserta kesedihan. Imam Syafi’i berkata, “Maka bersusah payahlah kamu karena kenikmatan hidup itu dalam bersusah payah.”

Hal ini paralel dengan pesan al-Quran:

ÝóÅöäøó ãóÚó ÇáúÚõÓúÑö íõÓúÑðÇ.

Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah [94]: 5)

Demikianlah wasiat-wasiat Nabi Muhammad Saw. kepada Ibnu Abbas. Semoga dapat kita ambil manfaat dan hikmahnya. Amin.


About this entry