Tentukan Kapten setelah Negara Diselamatkan



PAN Ajak Kerja Sama PDIP Menangkan Pilpres
Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir kembali melakukan muhibah politik. Kali ini dia bertemu suami mantan Presiden Megawati, Taufik Kiemas, yang juga ketua Deperpu PDIP.

Pertemuan Soetrisno-Kiemas berlangsung di Hotel Sultan Jakarta dalam acara buka puasa bersama. Dari PAN hadir Zulkifli Hasan (Sekjen), Totok Daryanto (ketua Bapilu), Didik J. Rachbini (ketua Komisi VI DPR), Dede Yusuf, dan Teguh Juarno.

Dari PDIP tampak menemani Kiemas, antara lain, Pramono Anung (Sekjen), Daryatmo Mardiyanto, Panda Nababan, dan Budiman Sujatmiko. “Saya panggil Kak Taufik karena istri saya dari Palembang,” ucap Soetrisno memulai pembicaraan. Dia kemudian mengajak PDIP terus menjalin kerja sama dengan PAN, baik dalam proses pilkada maupun pilpres.

“PDIP oposisi, PAN juga sebagai partai bebas kritis yang hakikatnya tak berbeda dengan oposisi,” jelasnya. Kedua partai juga punya kesamaan visi dalam menyelamatkan bangsa.

“Survei membuktikan, koalisi dengan PAN banyak memenangkan pilkada. Itu artinya PAN membawa berkah,” kilahnya.

Kiemas menyebut kekuasaan pemerintahan SBY-JK secara efektif tinggal enam bulan. Sebab, April 2008, setiap parpol sudah berancang-ancang pemilu dan merancang pemenangan Pilpres 2009.

Kiemas menyebut PDIP sudah menetapkan Mega sebagai capres 2009 untuk menantang ulang SBY. Tapi, peluang kerja sama dengan PAN tetap terbuka, apalagi PDIP belum menetapkan siapa yang mendampingi Mega.

“Kita tak mungkin menyelesaikan masalah bangsa ini sendirian. Berdosalah kita kalau kita maju sendirian karena hasilnya pasti akan kacau-balau,” tegasnya.

PDIP mengajak PAN dan sejumlah partai lain bersama-sama mementingkan kepentingan negara, Pancasila, dan pluralitas bangsa. “Yang penting itu, selamatkan dulu negara ini. Baru kita tentukan siapa nanti kaptennya. Bukan tidak mungkin nanti kaptennya Mas Soetrisno Bachir,” selorohnya.

Soetrisno juga menegaskan, PAN belum memutuskan siapa yang akan diusung jadi capres. Yang dilakukan baru sebatas memunculkan tokoh-tokoh baru seperti para gubernur yang sukses di daerah. Mereka, antara lain, Sutiyoso (DKI Jakarta), Sultan Hamengkubuwono X (Jogja), Fadel Muhammad (Gorontalo), Zulkifli Nurdin (Jambi), dan Gamawan Fauzi (Sumbar).

“Tujuannya supaya rakyat tidak seperti membeli kucing dalam karung,” tandasnya. Dalam waktu dua tahun, rakyat diberi peluang menilai, menimbang, dan melihat siapa yang cocok memimpin bangsa kelak. (adb)


About this entry