Keteladanan Seorang Ibu

Betapa ketegaran dan keberaniannya patut diacungi jempol walau usianya masih muda tatkala dipaksa agar buka rahasia.

Ketika masih kecil seperti yang dijelaskan dalam Sirah Ibnu Hisyam I/487, ia telah menghadapi gangguan dari musuh Allah subhanahu wa Ta’ala. Abu Jahal datang kepadanya untuk memaksa agar memberitahukan dimana tempat persembunyian ayahnya. Akan tetapi beliau tetap menjaga tanggung jawab karena satu kata saja yang keluar dari mulutnya bisa menyebabkan bahaya besar, maka beliau hanya diam dan tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya selain “Aku tidak tahu.” Walau akhirnya ia ditampar sangat keras oleh Abu Jahal hingga jatuh anting-antingnya.

Ketika Sang ayah berhjrah seperti dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dari Ibnu Hisyam dalam Siyaru A’lam an Nubala’ II/288 dengan membawa seluruh hartanya datang Abu Quhafah, kakek beliau yang telah hilang penglihatannya dengan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu itu hendak mencelakakan kalian dengan membawa seluruh harta dan jiwa’ maka tiadalah yang diperbuat oleh seorang gadis yang suci dan pemberani tersebut melainkan berkata ‘Jangan begitu…beliau telah meninggalkan bagi kita harta yang baik dan banyak.’

Kemudian ia mengambil batu-batu dan beliau letakkan di lubang dinding dengan ditutupi kain dan beliau pegang tangan kakeknya lalu beliau sentuhkan tangan kakeknya pada kain tersebut sambil berkata ‘inilah yang ayah tinggalkan buat kita.’ Abu Quhafah berkata ‘Jika dia telah meninggalkan bagi kalian barang-barang ini ya sudah.’ dengan hal itu ia telah meredam kemarahan sang kakek, menenangkan pikiran dan menentramkan hatinya.

Ia juga telah memberikan contoh hidup dan teladan yang baik dalam hal bersabar menghadi kesulitan hidup dan serba kekurangan, senantiasa berusaha taat kepada suami dan menjaga keridhaan suami.

Seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam an Nikah VI/156 dan Muslim dalam as Salam No. 2182, ‘Zubeir menikahiku sedangkan ia tidak memiliki apa-apa kecuali kudanya. Akulah yang mengurus dan memberinya makan, aku pula yang mengairi pohon kurma, mencari air, dan mengadon roti. Aku juga yang mengusung kurma yang dipotong oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam dari tanahnya Zubeir. Sampai akhirnya, Abu Bakar ayah beliau mengirim pembantu sehingga saya merasa cukup untuk mengurusi kuda, seakan-akan ayah telah membebaskanku.’

Buah kesabaran itu adalah mendapatkan nikmat yang banyak, akan tetapi Ummu Abdillah al Quraisyiyah at Tamiyah yang akrab dipanggil Asma’ binti Abu Bakar tidak sombong akan kekayaannya. bahkan beliau adalah seorang dermawan dan pemurah serta tidak suka menyimpan sesuatu untuk besok. Apabila sakit, beliau menunggu hingga sembuh kemudian beliau memerdekakan semua budak yang ia miliki serta berkata kepada anak-anaknya, ‘Berinfaq dan bersedekahlah dan jangan kalian menunggu banyaknya harta.’

Ketika menjelang usia 100 tahun, Abdullah putra beliau meminta pertimbangannya tatkala Hajjaj mengepung Mekkah ‘Wahai ibu sungguh orang-orang telah menghinaku bahkan keluargaku dan anakku, sehingga tiada lagi yang bersamaku melainkan sedikit, mereka tidak sanggup melawan sedangkan ada kaum yang menawariku dengan dunia, bagaimana pendapat ibu?’

Adapun engkau wahai anakku, kata Asma’, jika mengetahui bahwa engkau diatas kebenaran dan mengajak kepada kebenaran, maka kerjakanlah. Sungguh telah terbunuh sahabat-sahabatmu sedangkan tidak mungkin engkau dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayah. Jika engkau hanya menginginkan dunia, maka seburuk-buruk hamba adalah engkau. Berarti engkau telah membinasakan dirimu sendiri dan orang yang berperang bersamamu.

Tatkala Asma’ menjumpai Abdullah untuk mengucapkan perpisahan dan merangkulnya, beliau memegang baju besi yang dikenakan anaknya dan berkata ‘Apa ini wahai Abdullah, apa yang kamu kehendaki? Maka ditanggalkanlah baju besi tersebut dan keluarlah Abdullah untuk beperang dan beliau senantiasa teguh dan berani dalam menyerang musuh hingga baliau terbunuh. Hajjaj memerintahkn pasukannya agar mayat beliau disalib. Kemudian menurut suatu riwayat, Hajjaj mendatangi Asma’ dan berkata ‘Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah aku perbuat terhadap anakmu wahai Asma’?’ Asma’ menjawab dengan tenang ‘Engkau telah merusak dunianya, namun ia telah merusak akhiratmu.’

Asma’ wafat di Mekkah beberapa hari setelah terbunuhnya putra beliau Abdullah. Inilah keteladanan seorang ibu yang patut menjadi contoh bagi para wanita sekarang. Mendidik anaknya memjadi pemberani membela agama. Wallahu’alam.

[Disalin dari majalah Nabila Edisi 09/Tahun1/Februari 2005]


About this entry