Golkar Tawari Sutiyoso RI 2

Salah Satu Opsi Hadapi Pilpres 2009
JAKARTA – Partai Golkar mulai mengutak-atik hitungan menghadapi Pemilihan Presiden (pilpres) 2009. Partai berlambang beringin itu menyimpan berbagai strategi untuk bisa kembali meraih kekuasaan dalam pemilu yang akan berlangsung dua tahun lagi.

Priyo Budi Santoso, salah seorang ketua DPP Partai Golkar, kemarin membeberkan sejumlah strategi dan alternatif. Orang kepercayaan Jusuf Kalla itu menjelaskan, kemungkinan Kalla akan maju sebagai calon presiden merupakan salah satu opsi.

Opsi lain yang menjadi prioritas, menurut dia, adalah mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- Kalla. Duet itu, kata dia, sudah teruji. “Ini opsi utama,” ujarnya saat ditemui di sela fit and proper test calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) di ruang Komisi II DPR kemarin.

Dia mengatakan, bila pilihannya memajukan Kalla sebagai calon presiden, Golkar akan membuka pintu untuk posisi calon wakil presiden (cawapres).

Karena itu, lanjut dia, Partai Golkar juga membuka opsi duet Kalla-Sutiyoso. “Dengan catatan, Pak Sutiyoso mau menjadi RI 2,” jelas ketua Koordinator Bidang Keagamaan Partai Golkar itu.

Tawaran tersebut dinilai layak. Sebab, Sutiyoso hingga kini belum mempunyai kendaraan politik. Apalagi, posisi Kalla incumbent. “Ya, kalau calon tidak punya kendaraan politik, kemudian ditawari naik pesawat jet, ya mesti,” tambah Priyo.

Dari sejumlah opsi tersebut, Partai Golkar akan menentukan pilihan pada forum rapat pimpinan nasional (rapimnas) yang akan digelar akhir 2008 atau awal 2009.

Di tempat terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Firman Soebagyo menyatakan, mempertahankan duet SBY-Kalla adalah opsi terbaik. Ditambah lagi, posisi popularitas duet tersebut masih sangat kuat. “Sekarang ini SBY tinggal menyerahkan semua kebijakan ekonomi kepada Pak JK (Jusuf Kalla). Presiden tinggal menyelesaikan masalah hubungan luar negeri dan masalah strategis yang lain,” lanjut Firman.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok justru menilai, pernyataan Kalla yang mengisyaratkan akan maju sebagai capres merupakan upaya meningkatkan posisi tawar terhadap SBY. “Pak JK nggak bisa menghentikan gejolak di Partai Golkar setelah sejumlah tokoh nasional maju pada Pilpres 2009,”

Mubarok juga menilai, banyaknya calon yang muncul sejak dini dapat memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menentukan pilihan. Meski demikian, guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta tersebut percaya bahwa ada mekanisme seleksi kepada para calon tersebut oleh KPU.

Sebagai incumbent, SBY hanya perlu meningkatkan kinerja dan mendapatkan simpati masyarakat melalui program-program perbaikan ekonomi. Karena itu, lanjut Mubarok, SBY dan Partai Demokrat tidak perlu ngotot bermanuver politik untuk mendapatkan simpati masyarakat. “Kita kawal saja program pemerintah supaya berhasil,” ujarnya.

Sikap Purnawirawan

Dua hari setelah Sutiyoso mendeklarasikan diri sebagai calon presiden, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat manuver halus. Kemarin SBY menerima para purnawirawan TNI yang tergabung dalam Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) di Kantor Presiden.

Pertemuan tersebut secara tidak langsung ingin mengesankan bahwa tidak semua purnawirawan TNI mendukung Sutiyoso untuk maju sebagai calon presiden dalam Pilpres 2009. Tidak semua purnawirawan mengikuti jejak mantan Kepala BIN Hendropriyono dan mantan Panglima ABRI Try Sutrisno yang menyokong Sutiyoso. Setidaknya para purnawirawan yang tergabung dalam organisasi resmi telah merapat ke Istana Presiden.

Kedatangan pengurus Pepabri yang dipimpin Ketua Umum Irjen Pol (pur) IGM Putera Astaman dikemas dalam bentuk laporan persiapan Kongres Pepabri yang pelaksanaannya November mendatang. “Kami juga mengundang Presiden SBY untuk membuka kongres kami,” kata Putera usai bertemu dengan SBY di Kantor Presiden kemarin.

Dia juga menjelaskan, pihaknya melapor ke SBY tentang berakhirnya masa bakti kepengurusan Pepabri periode 2002-2007. “Kami akan berkongres November bersama-sama Kongres Persatuan Istri Purnawirawan (Perin),” ujarnya.

Hanya, Putera membantah bahwa kedatangan pengurus Pepabri ke istana untuk mendukung SBY maju sebagai capres dalam Pilpres 2009. Meski demikian, dia tidak mengelak kalau suatu saat nanti Pepabri mendukung salah seorang calon. “Ya kita lihat saja nanti,” katanya.

Putera kepada wartawan juga menegaskan tidak ada pembahasan soal pencalonan Sutiyoso dalam pertemuannya dengan SBY. “Hal itu tidak didiskusikan. Tapi, nuansanya sudah begitu. Artinya, kalau ada yang secara pribadi sebagai WNI ingin maju di politik praktis, silakan saja,” tuturnya.

Putera mengatakan, setiap warga negara, termasuk purnawirawan, punya hak politik untuk dipilih sebagai calon presiden. Pepabri tidak akan menghalang-halangi para purnawirawan yang akan bertarung dalam pilpres nanti. “Beliau-beliau itu memiliki potensi dan kemampuan untuk beraktivitas di bidang politik. Ya silakan saja,” katanya.

SBY, kata Putera, juga tidak menyinggung soal pilpres. Presiden memberikan penilaian bahwa apa yang telah dilakukan pengurus Pepabri selama ini sudah berjalan dengan baik. Di mata SBY, Pepabri adalah organisasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota serta berkomitmen soal NKRI, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika merupakan harga mati.

“Komitmen ini bukan berarti Pepabri melakukan politik praktis. Tapi, ini politik negara yang harus kita sama-sama laksanakan agar negara kita tenteram dan kita bisa beraktivitas secara baik,”

Sikap Prajurit Aktif

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto berjanji akan memberikan sanksi yang tegas kepada anggota TNI aktif yang menjadi tim sukses calon presiden (capres) 2009. “Kalau ada, laporkan kepada saya, nanti akan ditindaklanjuti masing-masing kepala staf,” ujar Djoko di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, kemarin.

Panglima menegaskan hal itu usai acara geladi bersih Hari Ulang Tahun Ke-62 TNI yang jatuh besok. Saat menyampaikan pesan “politik” itu, Djoko didampingi kepala staf tiga angkatan. Yakni, KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso, KSAU Marsekal TNI Herman Prajitno, dan KSAL Laksamana TNI Slamet Soebijanto.

Panglima juga mengomentari Sutiyoso yang maju menjadi calon presiden 2009. “Karena beliau sudah purnawirawan, maka silakan saja, itu hak demokratis warga negara,” ujar perwira kelahiran Madiun tersebut.

Apakah ada jaminan tentara tak ikut-ikutan? Djoko pasang badan. “Jaminan soal itu seratus persen. Saya yang tanggung jawab, tidak boleh ada gangguan terhadap prajurit-prajurit aktif oleh siapa pun, termasuk oleh purnawirawan,” tegasnya. (cak/pri/tom/rdl)


About this entry