bondan winarno

<!— —>

       

Rabu, 03 Oktober 2007

 
 
 
 
   MENU
Jalansutra
 
Keramat Walisongo
Senin | 01 Oktober 2007 | 8:52 wib | 43 Komentar

BONDAN WINARNO
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya. (E-mail: bondanw@gmail.com) Baca Profil

 

[X] close


Bondan winarno

Makam Sunan Gunung Jati

Saya adalah salah seorang yang dulunya keliru menduga bahwa Walisongo – sembilan Wali Allah yang menyebarkan syi’ar Islam di Nusantara – adalah satu majelis yang terdiri atas sembilan aulia (orang yang dikasihi Allah) dan pada saat-saat tertentu berkumpul untuk memusyawarahkan hal-ihwal yang bersangkutan dengan tugas masing-masing.


Saya baru menyadari bahwa kesembilan Wali itu ternyata sedikitnya terdiri atas empat generasi, dan hidup pada masanya masing-masing. Artinya, kesembilan Wali itu secara fisik tidak pernah berkumpul pada waktu yang bersamaan. Kesimpulan itu saya temukan ketika melakukan riset kecil untuk menyiapkan ziarah ke semua makam keramat Walisongo di Tanah Jawa. Uniknya lagi, ternyata banyak di antara mereka yang mempunyai ikatan darah – baik secara langsung maupun melalui pernikahan.

Wali yang tertua adalah Sunan Gresik. Generasi kedua adalah Sunan Ampel. Sunan Ampel ini berputera dua orang yang juga menjadi Wali, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Salah seorang dari dua putri Sunan Ampel kemudian menjadi istri Sunan Kalijaga. Putrinya yang lain menikah dengan Sunan Ngudung yang menurunkan Sunan Kudus. Sedangkan Sunan Kalijaga mempunyai seorang putra yang menjadi Wali, yaitu Sunan Muria. Sunan Giri diperkirakan adalah saudara semenda Sunan Gresik. Satu-satunya Wali yang “terlepas” dari pertautan darah dengan Wali yang lain adalah Sunan Gunung Jati.

Sebelum melakukan ziarah ke makam keramat Walisongo menjelang bulan suci Ramadhan yang lalu, saya pernah melakukan ziarah secara terpisah-pisah ke makam keramat empat Wali. Di antaranya – karena alasan khusus – makam keramat Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak, adalah makam yang paling sering saya rindukan, dan karena itu merupakan makam yang paling sering saya ziarahi.

Makam keramat Sunan Gresik terletak di Desa Gapura, sedikit di pinggir Kota Gresik, Jawa Timur. Desa ini berbatasan dengan Laut Jawa, sehingga merupakan point of entry yang strategis bagi Sunan Gresik yang datang pada tahun 1391 dari arah Barat. Banyak dugaan tentang asal-muasal kedatangan Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim ini. Berbagai sumber menyebut kemungkinan ia datang dari Champa, Gujarat, Shamarkand, Hadramaut, bahkan Persia.

Dalam salah satu catatan disebut bahwa ia datang bersama abangnya yang bernama Maulana Ishaq. Di kemudian hari, putra Ishaq belajar agama dari Sunan Gresik, dan kemudian meneruskan syi’ar dengan nama Sunan Giri. Dalam catatan lain disebut bahwa keduanya adalah putra Syekh Jumadil Qubro. Maulana Malik Ibrahim ditugasi menyebarkan Islam di Tanah Jawa, sedangkan Maulana Ishaq meng-Islam-kan Samudra Pasai.

Tanah Jawa ketika itu masih berada di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Sunan Gresik mendekati masyarakat dengan cara yang pada masa kini disebut community development program. Ia membuka warung yang ramai didatangi warga. Karena keahliannya sebagai seorang tabib, ia pun dengan sukarela mengobati warga yang sakit. Keahliannya bercocok tanam pun ditularkan kepada masyarakat, sehingga hasil bumi dari desa itu meningkat pesat.

Interaksi dengan masyarakat yang sedemikian intens membuat warga pun bertanya-tanya: agama apakah gerangan yang dianut pendatang yang baik budi ini? Perdagangan, pertanian, dan jasa sukarela sebagai tabib kemudian menjadi transformasi dakwah Islamiyah bagi Maulana Malik Ibrahim. Ia pun kemudian bertandang ke Trowulan, ibukota Kerajaan Majapahit.

Kunjungan ke Trowulan ini dicatat dalam berbagai sumber sebagai kemungkinan mulai diterimanya Islam sebagai agama Raja Majapahit. Catatan lain hanya menyebut bahwa Raja Majapahit menghargai jasa Sunan Gresik terhadap warga, serta menghadiahinya dengan tanah perdikan di pinggiran Gresik.

Sunan Giri yang bernama kecil Raden Paku atau Ainul Yaqin bergaul akrab dengan saudara sepupunya, Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel) yang kemudian bergelar Sunan Bonang. Mereka berdua bahkan dikirim bersama-sama ke Tanah Suci untuk mendalami Islam. Sekembalinya ke Jawa, mereka berdua melakukan syi’ar di tempat yang berlainan.

Sunan Bonang adalah seorang Wali yang dikenal memiliki ilmu kebatinan tinggi. Ia mengembangkan ilmu zikir dari Rasulullah s.a.w. yang dikombinasi dengan pernapasan yang disebut Rahasia Alif-Lam-Mim. Di masa sekarang, ilmu ini dikembangkan menjadi tenaga-dalam silat tauhid. Karya Sunan Bonang lagu “Tombo Ati” sekarang bahkan populer kembali melalui garapan Cak Nun dan Opik.


Bondan winarno

Gapura Makam Ampel

Nama Sunan Bonang diperoleh dari Desa Bonang di dekat Jepara, tempatnya berdakwah. Ketika wafat, jenazahnya dibawa ke Tuban dan dikebumikan di sana – makam keramat yang dianggap resmi dan ramai diziarahi. Soalnya, ada versi lain yang menyebut makam Sunan Bonang di tempat lain di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam melakukan dakwah, Sunan Giri mulai menggunakan simbol-simbol Jawa, antara lain dengan menciptakan lagu-lagu permainan anak-anak seperti “Lir-Ilir”, “Jethungan”, dan “Cublak-cublak Suweng” yang masih populer di pedesaan Jawa hingga kini. Dalam kesenian yang lebih tinggi, Sunan Giri juga dikenal sebagai pencipta tembang “Asmaradhana” dan “Pucung”.

Sunan Giri mendapat tugas berdakwah di Desa Kebomas, dekat Gresik. Pesantren ini bahkan populer hingga ke luar Jawa. Para santri berdatangan dari Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Ambon. Pesantren di tanah perdikan ini kemudian juga mekar menjadi kesultanan bernama Giri Kedaton.

Sunan Giri bukanlah satu-satunya Wali yang menjadi kepala pemerintahan. Sunan Gunung Jati adalah perintis berdirinya Kerajaan Islam Banten yang kemudian dipimpin oleh putranya sebagai Sultan Banten yang pertama. Sunan Gunung Jati sendiri kemudian hijrah ke Cirebon untuk melanjutkan syi’ar Islam, dan mendirikan Kasultanan Cirebon sebagai Sultan Cirebon yang pertama. Sedangkan Sunan Kudus pernah menjabat di pemerintahan sebagai Panglima Perang merangkap Hakim Pengadilan di Kesultanan Demak.

Sunan Gunung Jati di masa kecilnya bernama Syarif Hidayatullah, putra Jamaluddin Akbar, seorang saudagar dari Gujarat yang dikenal sebagai seorang Sufi Agung di Nusantara dengan nama Syekh Maulana Akbar. Ia menikah dengan Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya Walisongo yang berdarah Sunda.

Sunan Drajat, adik Sunan Bonang, bertugas melakukan dakwah di daerah Lamongan, bernama kecil Syarifuddin atau Raden Qasim. Ia dikenal sangat cerdas dan hanya mau melakukan dakwah setelah terlebih dulu memajukan kesejahteraan masyarakat. Program pengentasan kemiskinan yang dilakukannya didasari pada tujuh prinsip yang dilambangkan pada jumlah anak tangga ke makamnya. Ia juga menggunakan simbol-simbol Jawa dalam tembang “Pangkur” untuk berdakwah.

Tetapi, Sunan Kalijaga-lah yang dianggap paling lekat namanya dengan kebudayaan Jawa. Nama kecilnya adalah Raden Said. Ia memelopori dihentikannya penggunaan simbol-simbol Arab dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Ia selalu memakai kain panjang dari batik dan baju surjan dari lurik, serta blangkon yang khas Jawa.

Ajaran-ajarannya yang sarat dengan simbol budaya Jawa membuat Sunan Kalijaga sering “dituduh” sebagai pengajar sinkretisme. Doa yang dibalut dalam tembang “Dandanggula” berjudul “Rineksa ing Wengi” sangat Islami, tetapi juga sangat n-Jawa-ni. Ia sealiran dengan kakak iparnya, Sunan Bonang, dalam hal ajaran sufi berbasis salafi. Karya budayanya yang lain adalah cerita wayang “Petruk Jadi Ratu”, tradisi Grebeg Maulud, dan Layang Kalimasada.

Sunan Kalijaga yang berusia lebih dari 100 tahun mengalami masa akhir Majapahit dan awal Kerajaan Mataram. Ia membangun Masjid Demak dan membantu Sunan Gunung Jati membangun Masjid Cirebon.

Sunan Kudus yang bernama kecil Raden Jaffar Siddiq hingga sekarang meninggalkan jejak kuliner yang dianut warga Kudus dan Pati, yaitu berbagai makanan khas yang dibuat dari daging kerbau. Soalnya, pada waktu itu Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi, satwa yang diberhalakan oleh warga Hindu. Pada perayaan Idul Adha pun yang disembeli sebagai hewan kurban bukanlah sapi, melainkan kerbau.

Sunan Muria yang bernama kecil Raden Umar Said mengikuti jejak ayahnya menjadi Wali yang sangat akrab dengan masyarakat. Ia bahkan dipuja sebagai Wali-nya kaum papa. Ia hidup di tengah rakyat jelata, dan mengajari mereka cara bercocok tanam yang lebih produktif. Ia juga merupakan jurudamai yang andal pada masanya. Ketika terjadi konflik internal di Kerajaan Demak, ialah jurudamainya. Seperti ayahnya, ia juga menciptakan tembang-tembang Jawa “Sinom” dan “Kinanti” untuk berdakwah.


Bondan winarno

Sate Kerbau

Cara yang terbaik untuk melakukan wisata ziarah ke Makam-makam Keramat Walisongo ini adalah menyusuri Jalur Pantura dari arah Barat. Pertama, menziarahi makam Sunan Gunung Jati di dekat Cirebon. Secara berurutan kemudian berziarah ke makam Sunan Kalijaga di dekat Demak, Sunan Kudus di Kudus, dan Sunan Muria di Colo, Gunung Muria – antara Kudus dan Pati. Setelah itu berziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di dekat Lamongan, Sunan Giri dan Sunan Gresik di dekat Gresik, dan diakhiri dengan ziarah di makam Sunan Ampel di Surabaya.

Semoga jasa para leluhur senantiasa membuat kita semua semakin dikasihi oleh Allah yang Maha Akbar.


43 Komentar

  Ust. Hidayattulloh
03 2007 0:34<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Saya senang dengan artikel Pa` Bondan ini, bagus sekali untuk mengenal sejarah islam di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya. Namun kita juga perlu meluruskan niat pada saat berziarah ke makam para wali ini, maksudnya kita memang berziarah ini adalah untuk mendo`akan orang yg sudah mati dan juga untuk mengingat tentang mati, jangan sampai nanti kita terjerumus ke arah syirik dengan membuat sesembahan (tempat meminta) tandingan selain ALLOH SWT, karena kebanyakan jamaah datang/ziarah ke makam para wali dengan maksud mendapatkan keberkahan atau meminta sesuatu dengan perantara kubur para wali tsb. Bahkan akhir-akhir ini banyak beredar pemahaman yang menyesatkan bahwa bila kita berziarah ke makam para wali sampai 9 x itu nilai pahalanya sama dengan menunaikan ibadah haji ke baitulloh, naudzubillaahi mindzalik.
  adi
02 2007 19:59<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
artikel nya bisa ditambah lagi dengan penyebar islam generasi selanjutnya karena di jakarta juga banayak makam kramat
  Arry G
02 2007 15:03<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Pak Bondan bagus lho artikelnya, ringkas tp padat. Kyknya asik ya klo zaman skrg kyai-kyai nya seperti para auliya yg ada di artikel di atas, pasti negara kita ga amburadul kyk gini
  ABDUL,BRUNEI
02 2007 11:18<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
AKU setuju bnget kalo kompas slalu menampilkan kisah2 yg berbau agama islam.buat nambah pngetahuan gue tntang islam.trmakasih pada ciber kompas
  Ayu Java Belanda
02 2007 9:18<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Wah crta bpk sgt menarik,soalnya awal thn 2002 saya pernah diajak teman liburan ke masjid Demak, kebetulan saat itu pas lebaran Idul Adha,saya jg sempat sholat dan berdoa didekat makam sunan kalijaga ktnya para wali sgt tinggi ukuran tubuhnya….sungguh indah arsitektur masjid Demak,saya jg sempat berfoto dilatarbelakangnya masjid Demak,dekat situ jg ada pasar malam tradisional yg mana menjual segala macam makanan khas kota Demak,Seharusnya wisata ziarah makam keramat para Walisongo bisa lebih dipromosikan kepada wisatawan mancanegara khususnya mereka yg berasal dr negara2 Islam seperti negara Malaysia,Bruney Darusalam,Saudi Arabia yg mana mereka org2 mampu yg berwisata ke luar negeri,gunakan kesempatan baik ini utk mempromosikan Indonesia “visit Indonesia 2007″kayanya itu tugas berat menteri pariwisata tuh untuk lebih kerja keras okey deh Sukses to pak Bondan……
  Tono
02 2007 1:00<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Subhanalloh, itulah Islam yg sebenarnya. Penuh dgn kedamaian dan membawa ketentraman.
  Lilik Padmo
01 2007 22:38<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
pak Bondan Yth. Sungguh senang baca artikel anda tentang wali songo.Ternyata pak Bondan memang penulis yg.maknyuuuus.Salam hormat untuk pak Bondan.
  Sipoet (UK)
01 2007 10:10<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Pak Bondan, saya bukan Muslim dan bukan orang Jawa, tp artikel ini benar2 bagus, menarik dan enak di baca, salut utk Pak Bondan, yg rajin nulis disini ya Pak…
  LENNY – BELGIA
01 2007 8:52<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Wah … Salut ama pak BONDAN bukan hanya artikel kuliner2nya saja yg MAKNYUS, nyatanya sejarahnya ttg para SUNAN2 MAKNYUS banget deh !!! Sejarahku sih udah lama sekali aku pulangi kegurunya deh, hehehheehh Aku juga sdh pernah berziarah ke-makam2 tsb, yg aku tahu kalau berziarah hrs benar2 percaya, tawakal dan iklas, apalgi kalau sampai tidur bermalam di-makam2 tsb, biasanya permintaan anda terkabul. Jadi makam2 tsb memang benar2 KERAMAT dan bermanfaat bagi org2. yg mau berziarah. Salam WALISONGO deh !!!
  mariku
01 2007 5:38<!— 16 Oktober 2006, 11 : 56 (Permalink )—>
Alhamdulillah,berkat artikel ini mengingatkan kembali kita tentang sejarah Para Wali,hal yang selama ini terlupakan teringat kembali,begitu besar dan mulia pengorbanan para Wali Allah .terima kasih Mas Bondan

ajax_getcomment(‘get_komentar.php?id=45597&section=96&page=1&mainpage=1’)

« Kembali ke atas

Komentar Anda


Ketik di sini :
Nama (harus diisi)
E-mail (harus diisi, tapi tenang saja, tidak akan ditampilkan kok!)
  Website URL
 
<!— Remember —>

Artikel Lainnya
Rimba Lodge
Dugder dan Kolak Ayam
Jalur Pantura
Ultimate in Diversity

<!—

—>

© 2006 Kompas Cyber Media | Disclaimer


About this entry