“Adikku Penyebab Hidayah”

Lahir dari keluarga Kristen yang fanatik. Bahkan dikenal sangat membenci Islam. Dia mendapati ibunya mengutuk Islam. Justru Allah membukakan hatinya

Oleh :M. Syamsi Ali
Beberapa pekan lalu, saya datang ke Islamic Center agak telat. Siang itu saya sibuk memenuhi undangan ceramah di beberapa tempat untuk memperingati tahun ke enam11 September yang jatuh pada hari Senin tgl 11 September 2007. Terasa kelelahan itu karena sehari sebelumnya perhelatan akbar tahunan parade Muslim juga berlangsung di kota dunia ini.

Begitu melalui pintu masuk di resepsionis, nampak seorang gadis berambut pirang duduk sambil tersenyum. Barangkali tidak menyangka kalau Imam yang dia tunggu itu adalah saya. Maklum pakaian saya memang tidak berbeda dengan pakaian kalangan umum. Prinsip saya, pakaian itu bertujuan untuk menutup aurat. Maka style dan warna bukan sesuatu yang diatur oleh Islam, selama memenuhi tujuannya (menutup aurat).

Setelah salam kepada resepsionis saya kemudian menengok ke gadis tersebut sambil mengucapkan “Good morning!”. Dengan ramah dia jawab “Good morning!”.

Sebelum saya berlalu resepsionis memberitahu “She is waiting for you!”. Saya biasanya bercanda. “Really? A girl is waiting for me?”.

Resepsionis kemudian menjelaskan bahwa gadis tersebut ingin mendalami Islam lebih jauh. Saya kemudian minta izin ke ruangan saya untuk meletakkan buku-buku bawaan dan juga untuk wudhu dan shalat tahiyyatul masjid. Setelah semua itu saya lakukan, saya meminta resepsionis untuk mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke ruang pertemuan Islamic center.

“Hi, wellcome! Pleasure to have in the Center!” sambut saya. “Oh, thank you for your kindness!” jawabnya.

Sambil berbasa-basi saya menanyakan nama dan asalnya. Dengan ramah dia menjawab “Hi, I am Bridget. Bridget Quinn and I am from Dallas”, katanya melengkapi nama dan asal daerahnya. Pikiran saya langsung mengingat Presiden Bush yang tetanggaan dengan Bridget ini.

“So why you are here then!” tanyaku. Bridget terdiam sejenak, tertunduk dan kemudian mengangkat kepalanya sambil menjawab: “Actually I wanted to learn Islam. I really want to know it”. Saya kembali tanya: “Why Islam is so attractive to you?” Sambil tersenyum dia menjawab, “I think I’ve found something that I have been missing it in my life”. “What do you mean?” tanya saya.

Dia sepertinya menarik napas panjang, dan kemudian menceritakan panjang lebar mengenai keluarganya.

Menurutnya, keluarganya itu adalah Kristen fanatik, yang sangat membenci Islam. Bahkan tidak jarang, menurutnya, di rumahmnya dia mendapati ibunya khususnya mengutuk Islam dan Muslim. Bahkan adiknya satu-satunya yang lelaki yang baru tamat SMA itu setengah dipaksa untuk ikut militer agar bisa ke Iraq berperang. Menurutnya lagi, dalam persepsi ibunya, berperang di Iraq itu sama dengan berperang melawan Islam dan Muslim.

Adiknya betul dikirim ke Iraq. “But every thing changed since then. My brother sent me a lot of emails every day, talking about Islam and Muslims”. Karena saya menyangka adiknya masuk Islam, saya Tanya, “So your brother embraced Islam?”. “No, no! He is only amazed by the teaching and its people”, jawabnya.

“So what he said?” tanyaku sebagai pancingan. “He told me that the more he read about the teaching, the more he is attracted into it. So he recommended me some websites to read and I did”. Tambahnya lagi: “And yes, the more I read about Islam, the more I believe that this what is missing in my life”.

Saya mencoba menangkap pikiran dan perasaan Bridget, dan nampak bahwa sesungguhnya dia sudah yakin akan kebenaran Islam. Hanya saja, dia masih menyimpan rasa khawatir jika informasi yang dia dapatkan itu ternyata tidak benar. Dan kehadirannya tidak lain adalah untuk semata konfirmasi.

“So, in your opinion, Islam is really some thing that you need in your life?”, tanya saya. “Yes, I am sure about that”, jawabnya tegas. “How do you think your mom will react if she knows that you learn Islam”, saya mencoba kembali memancing. Ternyata tekadnya sudah bulat. “I don’t care. I think I am quite matured to decide things in my life”, tegasnya.

Melihat kebulatan niatnya itu, saya langsung tanya: “So if I ask you to be a Muslim, are you ready?”. Tanpa ragu-ragu dia jawab: “Yes. I think this will be the most important decision I have ever taken in my life”.

Saya meminta resepsionis untuk mencari dua saksi. Alhamdulillah, disaksikan oleh dua saksi siang itu menjelang shalat Zuhur, Bridget resmi mengambil Islam sebagai jalan hidupnya. Allahu Akbar![www.hidayatullah.com]


About this entry