Sutiyoso Tantang SBY

Deklarasikan Diri sebagai Capres 2009
JAKARTA – Lengser dari gubernur DKI Jakarta nanti tidak membuat Sutiyoso pensiun. Justru dia memulai pekerjaan yang lebih besar untuk memburu kursi lebih tinggi, kursi presiden! Kemarin dia mulai melangkah dengan deklarasi “Sutiyoso for President” yang berlangsung di sebuah hotel berbintang di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Pusat.

Seribu lebih simpatisan Sutiyoso hadir. Mereka menggunakan kaus putih bertajuk “Bang Yos Pemimpin Masa Depan”. Warna putih bakal menjadi warna ’kebesaran’ pencalonan pria yang akrab disapa Bang Yos itu. Sebuah poster raksasa bergambar wajah sosok yang akan melepaskan jabatan gubernur DKI pada 7 Oktober itu menjadi latar belakang panggung. Berbagai hiburan juga digelar sambil menunggu waktu buka puasa.

Hadir sejumlah tokoh nasional dengan beragam basis. Tokoh dari militer antara lain mantan Panglima ABRI Jenderal (pur) Try Sutrisno dan mantan Kepala BIN Jenderal (pur) Hendropriyono. Juga terlihat beberapa politisi, seperti mantan Presiden Abdurrahman Wahid, politisi PAN A.M. Fatwa, Ketua Umum PNBK Eros Djarot dan Sophan Sopiaan. Juga ada penyair Taufik Ismail dan mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman. Selain itu, hadir sejumlah artis dan atlet, seperti Chris John dan Wulan Guritno.

Deklarasi Sutiyoso itu bakal meramaikan panggung Pilpres 2009. Dia bakal menjadi salah satu penantang serius incumbent Presiden SBY. Selain itu, ada kandidat kuat lain, yakni Megawati Soekarnoputri, yang sudah menyatakan kesediaannya maju lagi ke gelanggang capres.

Selain tiga tokoh tersebut, calon lain tak bisa dianggap enteng. Misalnya, mantan Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang telah membangun dukungan lewat deklarasi Partai Hanura. Sedangkan Golkar, partai pemenang Pemilu 2004, belum mengeluarkan nama calon. Sangat mungkin partai beringin itu mengusung nama Ketua Umum Jusuf Kalla.

Dari calon yang sudah tampak di permukaan itu, Sutiyoso praktis menjadi kandidat yang tidak memiliki basis partai besar. Hingga kemarin belum ada partai besar yang secara eksplisit memberi dukungan. Padahal, untuk meraih tiket calon presiden, dia minimal mengantongi 15 persen suara dari parpol atau koalisi parpol.

Andaikan melewati pintu calon independen, hingga saat ini belum ada aturan di UU. Masalah tersebut masih digodok di DPR, bahkan sulit terealisasi karena partai-partai yang menguasai parlemen cenderung mempersulit persyaratan calon perseorangan.

Walaupun belum memiliki kendaraan politik, Sutiyoso sangat percaya diri untuk tampil. Itu tergambar dalam pidato politiknya kemarin. Dia begitu membanggakan diri dengan klaim sukses memimpin Jakarta. “Sepuluh tahun (menjadi gubernur DKI Jakarta, Red) banyak pengalaman yang saya peroleh. Keberhasilan adalah hasil kerja keras rakyat Jakarta dan dukungan semua pihak. Kekurangannya karena keterbatasan saya sebagai manusia,” cetus pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, tersebut yang langsung disambut teriakan “hidup Bang Yos” oleh para simpatisan.

Sutiyoso yang pernah menjadi atasan SBY saat menjadi Pangdam Jaya -saat itu SBY Kasdam- menegaskan, niat menjadi calon presiden ada sejak setahun terakhir. Alasannya adalah semangat pengabdian dan kuatnya dorongan dan dukungan partai politik, organisasi, sejumlah tokoh nasional, hingga keluarga.

Dia pun langsung menyebut nama Try Sutrisno sebagai salah satu pendukungnya. Secara diplomatis purnawirawan TNI berpangkat letnan jenderal itu menjawab pertanyaan wartawan. “Anda tahu sendiri siapa yang mengundang Anda kemari (Try Sutrisno, Red). Itu kepala sukunya purnawirawan TNI,” katanya dengan bangga.

Sutiyoso juga mengaku didukung sejumlah partai kecil yang sudah ada dan beberapa partai baru. “Saya nggak mau menyebut apa saja partainya. Karena dukungan itu sifatnya tidak resmi,” ujarnya.

Saat ditanya hal apa yang membuatnya yakin menang dari incumbent Susilo Bambang Yudhoyono, Sutiyoso juga enggan berkomentar banyak. Dia meminta masyarakat menilai kinerja serta visi misinya untuk membangun Indonesia. “Program utama saya, menyukseskan otonomi daerah. Sasarannya buruh, tani, dan nelayan,” tandas mantan Asisten Operasi Koppassus tersebut.

Namun, Gus Dur yang hadir dalam deklarasi itu menjelaskan, kehadirannya bukan berarti memberi dukungan untuk Sutiyoso. “Siapa yang mendukung. Wong saya ke sini cuma diundang,” ujar ketua Dewan Syura PKB itu. Hanya, Gus Dur menyambut baik kesiapan Sutiyoso bertarung di 2009. “Siapa pun calonnya memang harus siap,” tandasnya.

Empat jam menjelang deklarasi, Bang Yos -panggilan akrab Sutiyoso- ternyata masih menyempatkan diri untuk menemui Ketum PDIP Megawati di kediaman Mega, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Pertemuan tertutup itu berlangsung kurang dari satu jam, pukul 12.00-12.45.

Para wartawan pun hanya bisa gigit jari karena tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mencegat Sutiyoso. Seusai pertemuan, dia langsung meninggalkan kediaman Mega dengan menggunakan mobil Black Toyota Harrier bernopol B8731OG.

Sekjen PDIP Pramono Anung yang ikut mendampingi Mega menyampaikan, pertemuan itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Jadi, tidak mendadak. “Pertemuan ini atas permintaan Bang Yos. Saya sudah dihubungi sejak Sabtu (29 September) lalu,” katanya.

Menurut dia, Sutiyoso juga mengundang Megawati untuk datang ke acara deklarasi “Sutiyoso for President”. Namun, Megawati tidak bisa hadir karena juga harus mempersiapkan diri untuk acara buka puasa bersama yang diadakan di rumahnya. “Tapi, Bu Mega tetap memberikan selamat kepada Bang Yos yang telah maju,” ujarnya.

Pram -demikian dia akrab disapa- menegaskan, pascadeklarasi, baik Megawati maupun Sutiyoso sama-sama berharap ada pembicaraan lanjutan untuk membangun sinergi. “Nah, bentuk sinergi itu apakah nanti saling bersaing satu sama lain atau bekerja sama memang belum dirumuskan. Itu akan dirumuskan nanti,” tegasnya.

Artinya, pintu bagi Sutiyoso untuk menjadi cawapres Mega belum tertutup? “Yang jelas, komunikasi yang baik ini merupakan modal untuk kerja sama di kemudian hari. Bentuknya seperti apa, itu tentunya beliau berdua yang paling tahu,” jawabnya.

Pram hanya menyebut setiap langkah yang diambil Sutiyoso selalu diawali dengan membangun komunikasi kepada Bu Mega. “Bagaimanapun, Bang Yos itu jenderal. Kemunculannya pasti akan memengaruhi jenderal yang lain,” ucapnya.

Dikonfirmasi malamnya, Megawati Soekarnoputri yang baru saja mengadakan acara buka puasa di kediamannya mengakui Sutiyoso memang menyampaikan secara langsung perihal deklarasinya. “Saya jawab, oh, bagus. Silakan. Itu kan demokrasi. Selamat,” jelas Mega yang tampil dengan baju muslimah berwarna biru muda.

Menurut dia, dalam pertemuan singkat tersebut, Sutiyoso juga mengucapkan terima kasih kepada dirinya. “Soalnya, sewaktu dia jadi gubernur DKI, pemerintahan saya dapat bekerja sama dengan baik,” imbuhnya.

Bang Yos menawarkan kerja sama politik? “Bukannya saya yang mesti menawarkan kerja sama politik,” jawab Mega sambil bercanda. Tak takut tersaingi? “Kok yang ditanyain begitu. Katanya disuruh berdemokrasi. Kalau demokrasi, ya siapa saja ingin menjadi calon silakan saja,” jawab Mega enteng.

Ketika disinggung soal posisi Wapres, Mega juga tetap tidak menunjukkan sinyal siapa yang akan mendampinginya. “Sabar saja deh. Nama-nama kan banyak. Nanti kita lihat,” katanya. Presiden kelima RI itu menegaskan, ada aturan di internal PDIP yang harus ditaati. “Dalam forum seperti rakernas itulah, nanti kami akan evaluasi dan memutuskan siapa yang mendampingi saya,” tandasnya.

Reaksi SBY

Keputusan Sutiyoso maju dalam Pilpres 2009 tidak membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpancing. SBY memilih tidak memberikan reaksi atas manuver politik mantan atasannya itu. Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng menyatakan, SBY sama sekali tidak terpengaruh dan belum memikirkan agenda Pilpres 2009.

Bagi SBY, kata Andi, siapa pun berhak berkompetisi dalam menjadi presiden atau wakil presiden. Siapa pun itu, mulai Megawati, Gus Dur, maupun Sutiyoso. “Mau jadi capres, mau cawapres, ya silakan siapa saja. Yang penting, memenuhi syarat atau tidak. It is free country,” ujar Andi kemarin.

Menurut Andi, SBY masih disibukkan dengan urusan kenegaraan dan pemerintahan sehingga tidak sempat memikirkan perebutan kekuasaan yang masih dua tahun lagi itu. “Beliau (SBY, Red) menganggap jabatannya masih dua tahun. Jadi, pilihan terbaik dan bijaknya adalah fokus pada pekerjaan. Kalau sudah waktunya, pasti akan dipikirkan,” kata alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada itu.

Karena itu, SBY tidak pernah memusingkan tokoh yang sibuk bermanuver untuk Pilpres 2009. “Kalau ada yang mau duluan, jalan sendiri, deklarasikan, ya itu hak masing-masing. Biar rakyat menilai. Kalau presiden sih, ya kerja saja yang baik, jalankan amanah rakyat. Kalau rakyat kehendaki, ya terserah rakyat,” katanya.

Golkar Anggap Sutiyoso Terlalu Dini

Partai Golkar menganggap deklarasi Sutiyoso itu terlalu dini. Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono mengatakan, deklarasi tersebut hanya membuat iklim politik Indonesia semakin memanas.

“Sah-sah saja kalau dia mau maju. Tetapi bagi kita, 2009 itu masih jauh. Ekonomi kita masih perlu recovery, pemimpin jangan memanaskan situasi politik dengan terlalu dini mencalonkan diri,” katanya kepada wartawan di DPP Partai Golkar kemarin.

Partai Golkar, lanjut Soemarsono, tidak mau ikut-ikutan bermanuver soal Pilpres 2009 dan cukup berkonsentrasi bekerja untuk rakyat. “Buat apa? Lebih banyak mudlarat-nya. JK juga tidak pernah menyinggung soal capres-capresan. Yang penting bekerja serius mempersiapkan diri untuk 2009. Soal presiden dipikir belakangan,” tandasnya.(cak/yus/noe/pri/tom)


About this entry