Asas Tunggal Matikan Demokrasi

Ketua MPR Hidayat Nurwahid terus mengampanyekan penolakan terhadap wacana pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal parpol. “Kalau begitu caranya, demokrasi di Indonesia tidak akan berkembang,” tegas Hidayat Nurwahid di Surabaya kemarin (29/9).

Mantan ketua umum PKS itu menyatakan bahwa asas dalam berdemokrasi hendaknya tidak dijadikan alat represi. Sebab, dalam demokrasi, tidak dikenal pembatasan dalam berfilosofi dan berasas.

Hidayat menambahkan, saat ini, yang terpenting bukan memperdebatkan penggunaan Pancasila sebagai asas, melainkan mengonkretkan pelaksanaannya. “Berdebat terus tidak akan ada habisnya. Yang terpenting adalah action,” lanjutnya.

Jika asas tersebut diberlakukan, menurut Hidayat, akan ada dikotomi dalam demokrasi. Partai yang ada akhirnya terbelenggu dengan penetapan asas agama atau Pancasila.

Hidayat menilai, argumen yang dilontarkan bahwa dengan satu asas -asas Pancasila-, dapat lahir tertib politik dan memperkecil peluang pertikaian ideologi adalah salah besar. “Saya rasa penerapan itu tidak akan menjamin persatuan, malah membuat tegang suasana,” ungkapnya.

Orang nomor satu di MPR itu menegaskan bahwa Bung Karno pun menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas untuk kelompok maupun partai politik. Sebab, setiap AD/ART partai politik pasti mencantumkan bahwa asas partai politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. (cie)


About this entry